
Catus Pata, Pujawali Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih tahun ini tidak hanya menghadirkan kekhidmatan spiritual di tengah ribuan pemedek, tetapi juga memperlihatkan perubahan perilaku pemedek yang patut dicermati secara serius: kesadaran terhadap pengelolaan sampah mulai menunjukkan progres nyata. Dari pengamatan langsung di lapangan, satu hal yang cukup mencolok adalah berkurangnya tumpukan sampahdi areal Pura dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah indikator sederhana namun penting bahwa pendekatan yang dilakukan mulai menyentuh perilaku masyarakat.Jika tahun-tahun sebelumnya kawasan sekitar pura dan jalur pemedek kerap dipenuhi sisa upakara, plastik, hingga limbah canang yang tercecer, kini kondisinya relatif lebih terkendali. Tidak sepenuhnya bersih, tentu saja, tetapi ada pergeseran yang tidak bisa diabaikan. Tentu ini adalah hasil himbauan yang terus menerus dikumandangkan dan pemeriksaan dan sanksi nyata kepada pemedek yang masih menggunakan sarana berupa tas plastic atau kresek.
Salah satu langkah yang terbukti cukup efektif adalah ajakan kepada pemedek untuk tidak meninggalkan plaus atau wadah canang di lokasi persembahyangan. Membawa kembali perlengkapan upakara yang digunakan menghaturkannya di lebuh jaba sisi pura
Lalu bagaimana dengan Pemerintah Kabupaten Buleleng? Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama desa adat mulai menggeser strategi ke arah yang lebih tegas dan sistematis. Salah satunya adalah pengaturan jadwal pembuangan sampah berbasis tanggal ganjil dan genap organik dan non-organik dipisahkan tidak hanya secara jenis, tetapi juga waktu pembuangannya.
Desa Adat Buleleng yang memanfaatkan setra sebagai tempat pengelolaan sampah, TPST3 R menjadi salah satu contoh implementasi yang cukup progresif. Imbauan tidak lagi berhenti pada spanduk atau sosialisasi semata, tetapi diperkuat dengan pemasangan portal di titik-titik tertentu. Masyarakat yang datang tidak sesuai jadwal dipaksa untuk berbalik arah, sebuah bentuk “shock therapy” agar disiplin tidak lagi menjadi pilihan, tetapi keharusan.
Langkah ini memang tidak populer bagi semua pihak. Ada resistensi, ada keluhan. Namun jika dibiarkan tanpa kontrol, pola lama akan terus berulang: buang sampah sembarangan, menumpuk, lalu disalahkan pada petugas kebersihan. Padahal persoalannya ada pada perilaku kolektif.
Momentum Ida Bhatara Turun Kabeh menjadi cermin yang sangat jelas. Di satu sisi, umat datang dengan niat suci, membawa persembahan terbaik. Namun di sisi lain, kesucian itu bisa ternodai oleh sisa-sisa yang ditinggalkan tanpa tanggung jawab. Ya nggak ya nggak?
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
