Senandung Giri : Antara Sekolah Favorit dan Sekolah Upgrade

Catus Pata, SPMB 2026 harus menjadi titik balik bagi dunia pendidikan. Sudah saatnya publik meninggalkan stigma sekolah favorit dan sekolah nonfavorit. Yang dibutuhkan saat ini bukan lagi sekolah yang diburu karena nama besarnya, melainkan sekolah yang mampu terus meng-upgrade diri agar relevan dengan perkembangan zaman dan mampu melahirkan lulusan yang mandiri setelah tamat.

Selama bertahun-tahun, label sekolah favorit telah menciptakan ketimpangan persepsi di masyarakat. Akibatnya, terjadi penumpukan pendaftar pada sekolah tertentu, sementara sekolah lain dipandang sebelah mata. Padahal, tujuan utama pendidikan bukan sekadar masuk ke sekolah yang dianggap unggulan, tetapi bagaimana sekolah mampu membekali peserta didiknya dengan kompetensi, karakter, dan keterampilan hidup yang dibutuhkan di masa depan.

Karena itu, seluruh sekolah wajib bertransformasi. Perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga kebutuhan dunia kerja yang terus berubah harus direspons dengan pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas guru, serta penguatan sarana dan prasarana. Ukuran keberhasilan sekolah bukan lagi pada seberapa banyak siswa yang mendaftar, melainkan pada seberapa siap lulusannya menghadapi kehidupan nyata.

Dalam Obrolan Spesial yang digelar Radio Nuansa Giri di Wantilan Desa Adat Buleleng belum lama ini, berbagai pihak mulai dari kepolisian, Ombudsman RI, Dispora Bali, Disdikpora Kab. Buleleng, Dewan pendidikan hingga Ketua DPRD Buleleng memberikan penjelasan secara rinci terkait pelaksanaan SPMB 2026. Salah satu pesan penting yang mengemuka adalah komitmen untuk menciptakan proses penerimaan peserta didik yang lebih adil, transparan, dan bebas dari praktik-praktik yang selama ini menimbulkan polemik.

Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya, secara tegas mengingatkan bahwa dalam pelaksanaan SPMB ke depan tidak boleh ada lagi “jalur tikus”. Tidak boleh ada celah yang dimanfaatkan untuk mengakali aturan, memanipulasi domisili, atau mencari jalan belakang demi mendapatkan kursi di sekolah tertentu. Sistem yang dibangun harus memberikan kepastian hukum, menjamin keadilan bagi seluruh masyarakat, dan menutup ruang bagi praktik-praktik yang mencederai kepercayaan publik.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena keberhasilan SPMB tidak hanya ditentukan oleh regulasi yang baik, tetapi juga oleh integritas seluruh pihak yang terlibat. Ketika aturan dibuat untuk pemerataan akses pendidikan, maka semua pihak wajib menghormati dan menjalankannya secara konsisten.

Di sisi lain, kebijakan kuota bagi desa adat juga menghadirkan tantangan tersendiri. Para kelian desa adat yang wilayahnya menjadi lokasi sekolah tentu memikul tanggung jawab besar untuk memastikan kuota tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi krama desa adat setempat tanpa menimbulkan persoalan baru. Transparansi dan pengawasan menjadi kunci agar kebijakan ini tidak memunculkan keresahan di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, SPMB 2026 bukan semata soal penerimaan siswa baru. Ini adalah momentum untuk membangun wajah baru pendidikan. Tidak ada lagi sekolah favorit yang dipuja-puja dan tidak ada lagi jalur tikus yang merusak sistem. Yang ada adalah sekolah-sekolah yang terus berbenah, terus meningkatkan kualitas, dan berlomba mencetak lulusan yang unggul serta mandiri.

Sebab di masa depan, yang akan dikenang bukan nama besar sekolahnya, melainkan kualitas generasi yang berhasil dilahirkannya. Sekolah favorit bisa menjadi mitos yang usang, tetapi sekolah yang terus melakukan upgrade adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi he..he..hee.

Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *