
Catus Pata, Menyitir pernyataan John F. Kennedy, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” Kalimat itu terasa hidup dalam parade puisi yang digelar Radio Nuansa Giri FM di tengah semangat generasi muda Buleleng merawat ruang sastra modern.
Di tengah gempuran budaya digital dan hiburan instan, semangat sastra modern justru menyala di Buleleng. Radio Nuansa Giri FM menggelar parade puisi dan musik akustik yang mempertemukan pelajar SMP, SMA, mahasiswa, komunitas seni, hingga yowana banjar adat bahkan tak ketinggalan poliyisi ikut tampil dalam satu panggung kreativitas.
Kegiatan yang menggandeng Radio Komunitas Suara Teknika itu menjadi bukti bahwa sastra tidak kehilangan tempat di hati generasi muda. Dari sore hingga lewat pukul 23.30 WITA, panggung terus hidup oleh pembacaan puisi, musik, dan energi para peserta yang tampil penuh keberanian.
Kehadiran Putri Suastini Koster menjadi suntikan semangat tersendiri. Para peserta tampil lebih percaya diri, sementara penonton bertahan hingga akhir acara. Bahkan hujan deras yang mengguyur sebelum acara tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir dan berkarya.
Suasana semakin membara saat para penyair Buleleng seperti Putu Satria Kusuma, Yahya Umar, dan Arya Nugraha naik ke panggung. Penampilan mereka bukan hanya hiburan, tetapi juga suntikan motivasi bagi generasi muda untuk berani menulis, membaca, dan menyuarakan gagasan melalui sastra. Tak mau kalah Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya juga meluapkan perasaanya melalui puisi berjudul Bangkit.
Parade puisi ini menjadi langkah konkret memetakan potensi sastra modern di Buleleng sekaligus menegaskan bahwa daerah ini masih memiliki denyut kuat dalam dunia literasi dan kebudayaan. Dari panggung Sasana Budaya yang bocor sana-sini lahir optimisme bahwa sastra Buleleng masih hidup, bergerak, dan terus menemukan generasi penerusnya.(tut)
