
Singaraja, Panitia Panca Walikrama Pura Ulun Danu Batur, Kabupaten Bangli, melaksanakan audiensi dengan Bupati Buleleng di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Senin (27/7/2026). Audiensi tersebut bertujuan memaparkan rangkaian pelaksanaan karya sekaligus memohon dukungan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng.
Rombongan dipimpin Ketua Panitia Panca Walikrama, Gede Darmawa, didampingi jajaran panitia. Kehadiran mereka diterima langsung oleh Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG bersama Wakil Bupati Gede Supriatna, SH, serta didampingi Kepala Bagian Humas Setda Buleleng Gede Jumat Adijaya.
Dalam pemaparannya, Gede Darmawa menjelaskan bahwa Panca Walikrama Ulun Danu Batur merupakan karya agung yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Tahun 2026, pelaksanaannya dirangkaikan dengan upacara Danu Kerthi sebagai bagian dari upaya menjaga kesucian alam dan sumber-sumber kehidupan sesuai visi Pemerintah Provinsi Bali.
“Kami berharap pelaksanaan Panca Walikrama ini mendapat dukungan dari seluruh pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Buleleng. Karya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab krama Pura Ulun Danu Batur, tetapi juga merupakan yadnya bersama dalam menjaga keseimbangan alam, budaya, dan spiritualitas Bali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian karya akan diawali dengan prosesi Nanceb Karya pada 12 Agustus 2026, mencapai puncak pelaksanaan pada 26 September 2026, dan ditutup dengan prosesi Nyineb pada 6 Oktober 2026. Untuk penyelenggaraannya, panitia memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai lebih dari Rp5 miliar yang bersumber dari dukungan pemerintah, bantuan krama, serta sumber pendanaan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan karya yang memiliki nilai religius, budaya, sekaligus pelestarian lingkungan.
“Pemerintah Kabupaten Buleleng pada prinsipnya siap memberikan dukungan sesuai kemampuan daerah dan ketentuan yang berlaku. Semoga seluruh rangkaian Panca Walikrama dapat berjalan lancar, sukses, serta membawa berkah bagi masyarakat Bali,” katanya.
Ia juga menilai Panca Walikrama menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam sebagaimana filosofi kearifan lokal Bali.
