BBM Langka, Penghasilan Pelaku Pariwisata Buleleng Anjlok Hampir 90 Persen

SINGARAJA, Dampak dari panjangnya antrean dan langkanya BBM di pulau dewata khusunya di kabupaten Buleleng mulai menyentuh dunia pariwisata.

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali, khususnya Kabupaten Buleleng, mulai berdampak serius terhadap sektor pariwisata. Aktivitas wisata bahari, termasuk wisata melihat lumba-lumba di kawasan Lovina, dilaporkan mengalami penurunan hingga 80 persen. Bahkan, penghasilan sejumlah pelaku usaha pariwisata merosot hingga 90 persen.

Kondisi tersebut diungkapkan salah seorang penggiat pariwisata Buleleng, Nyoman Arya Astawa, saat ditemui di sela-sela kegiatan penyaluran minuman ringan kepada masyarakat yang mengantre BBM di SPBU Banyuasri, Minggu (18/10/2026).

Pria yang akrab disapa Mang Dauh itu mengaku, dampak kelangkaan BBM sudah dirasakan langsung oleh pelaku wisata, terutama mereka yang mengandalkan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas usaha sehari-hari.

“Yang nyata bisa kita lihat, pariwisata bahari, khususnya wisata melihat lumba-lumba, penurunannya sudah lebih dari 70 persen, bahkan sampai 80 persen. Ini karena mereka terkendala BBM. Jadi, sangat berpengaruh terhadap kondisi pariwisata di Buleleng saat ini,” ungkapnya.

Mang Dauh mengatakan, penurunan tersebut juga tercermin dari penghasilan yang diterimanya dari usaha yang dijalankan merosot hingga mencapai 90 persen.

“Saya mengambil barometer dari usaha saya sendiri. Contohnya, pada hari normal pendapatan saya anggap Rp1 juta, sekarang paling dapat Rp50 ribu. Berarti penurunannya hampir 90 persen,” keluhnya.

Menurutnya, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dampaknya berpotensi meluas ke berbagai sektor ekonomi masyarakat. Selain pariwisata, sektor pertanian dan perdagangan juga berisiko terdampak apabila distribusi barang serta mobilitas masyarakat terus terganggu akibat keterbatasan BBM. Ia mencontohkan kondisi di pasar, ketika sejumlah pedagang mulai kesulitan menjalankan aktivitas usahanya karena terkendala bahan bakar untuk berbelanja maupun mendistribusikan barang dagangan.

“Contohnya, kemarin di pasar, pedagang tahu sudah tidak ada. Mereka tidak bisa berjualan karena tidak memiliki BBM untuk berangkat berbelanja ataupun mendistribusikan barang yang akan dijual,” imbuhnya.

Atas kondisi tersebut, Mang Dauh berharap situasi pasokan BBM di Bali, khususnya Buleleng, segera kembali normal. Pemulihan pasokan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha masyarakat sekaligus mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.

“Harapan kami bukan saja selaku pelaku pariwisata, tetapi juga harapan seluruh masyarakat Buleleng dan Bali pada umumnya, bagaimana situasi ini bisa cepat pulih. Kami khawatir kalau kondisi ini berkelanjutan, semua sektor akan terdampak, baik pariwisata maupun pertanian,” tegasnya.

Di tengah situasi antrean BBM yang masih terjadi, Nyoman Arya Astwa turun langsung bersama relawan Semeton Mang Dauh (SMD) bergerak menyalurkan ribuan minuman dan makanan ringan kepada para pengendara yang mengantre di sejumlah SPBU di Kabupaten Buleleng.

Aksi sosial tersebut dilakukan secara serentak dengan melibatkan relawan di sejumlah wilayah, mulai dari Gerokgak, Pemuteran, Pengulon, Banyuatis, Seririt, Lovina hingga Kota Singaraja. Relawan menyasar SPBU Banyuasri setelah itu, penyaluran bantuan berlanjut ke kawasan Jalan Gajah Mada dan Sukasada.

Mang Dauh mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Meski bantuan yang diberikan sederhana, ia berharap dapat membantu memenuhi kebutuhan pengendara selama menunggu antrean.

“Apa yang kita berikan hari ini maupun kemarin memang sedikit, tetapi mudah-mudahan bisa meringankan saudara-saudara kita yang sudah sekian jam harus menunggu dan mengantre. Bantuan berupa air mineral, minuman ringan, dan kue ini setidaknya bisa menghilangkan dahaga selama mereka mengantre,” ujarnya.

Ia berharap, selain membantu masyarakat yang terdampak langsung, aksi tersebut dapat menggerakkan lebih banyak pihak untuk saling peduli di tengah kondisi sulit. Di sisi lain, pemulihan distribusi BBM tetap menjadi harapan utama agar aktivitas ekonomi dan pariwisata di Buleleng dapat kembali berjalan normal.(dnu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *