Menikmati Antrean BBM Dari Istilah War , Pejuang BBM hingga Nyejer

Catus pata, Sejak seminggu terakhir BBM di Bali  langka. Kondisi ini juga dialami oleh masyarakat Buleleng.  Pada awalnya masyarakat dapat  menerima pernyataan para pejabat yang mengatakan BBM langka karena pasokan terlambat. Hari berganti pernyataan berubah, kapal tangker pertamina sudah sandar di Bali. Dua Pelabuhan sanggaran Denpasar dan Manggis Karang Asem menjadi pilihan utama. Para pejabat meminta masyarakat jangan membeli BBM dalam jumlah besar atau istilahnya panik buying. Faktanya antrean semakin mengular pada setiap SPBU. Tanda-tanda kelangkaan BBM mulai kentara ketika gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan  kebijakan untuk Work From Home, WFH bagi para pegawai dilingkup Pemprop Bali. Kebijakan ini diterapkan juga oleh Pemkab Buleleng. Kondisi makin parah ketika WFH ini dimanfaatkan para pegawai untuk ikut antre BBM he he he. Semakin hari kondisi kian parah hingga akhirnya semua pihak yang berkompeten turun.  Hujatan kepada pemerintahpun mengalir deras, para politisi  memanfaatkan situasi untuk meraih simpati.

Strategi ganjil-genap dan kebijakan WFH pada 13–17 Oktober 2026 menjadi bagian dari upaya mengurangi mobilitas. Bahkan, muncul pula pembicaraan tentang pembatasan kegiatan masyarakat, mengingat masih berlangsungnya sejumlah kegiatan seremonial. Ditengah kondisi ini kepedulian pun mengalir. Para dermawan membagikan air mineral. Pemerintah Kabupaten Buleleng, dari jajaran pimpinan perangkat daerah hingga kelurahan, ikut menyumbangkan air mineral bagi para pejuang BBM. Bukan hanya air mineral  ambulance Buleleng Emergency Service terus disiagakan pada sejumlah SPBU yang dianggap rawan. Gubernur Bali, Wayan Koster, patut diapresiasi karena berani turun ke lapangan menghadapi kekecewaan masyarakat, bahkan di tengah terik matahari.. Disatu sisi para petugas SPBU harus bekerja ekstra hingga ada beberapa diantaranya yang tumbang.

Disinilah masyarakat kesabaran dan kesadaran masyarakat Bali diuji. Ketika BBM langka dan antrean mengular, lahirlah istilah war, pejuang BBM, hingga ungkapan pasrah, “Ampura, habis Bli.” Bahkan, antrean panjang dianalogikan dengan nyejer atau berlanjut dalam pujawali. Bedanya, kalau pujawali punya jadwal nyineb atau berakhir, sedangkan antrean ini belum jelas kapan bearkhirnya ya nggak ya nggak?

Si Giri bersenandung “Dibalik panjangnya antrean BBM, ada rakyat kecil yang sedang berjuang menjaga dapur tetap mengepul, mencari nafkah, mengantar anak ke sekolah, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin kehidupan berjalan normal tanpa harus menghabiskan waktu dan tenaga demi beberapa liter bahan bakar. Jangan biarkan rakyat terlalu lama belajar tentang kesabaran, sampai lupa rasanya mendapatkan kepastian. Sebab, bagi rakyat BBM bukan sekadar bahan bakar untuk kendaraan, melainkan bahan bakar untuk menghidupi harapan. Dan ketika harapan itu mulai kehabisan tenaga, yang dibutuhkan bukan sekadar kata-kata penenang, melainkan kehadiran negara yang benar-benar terasa ya nggak ya nggak?

Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *