
Catus Pata, Musim kemarau di Buleleng belakangan ini bukan hanya menghadirkan cuaca panas dan kekeringan. Di balik kondisi alam yang kering, tersimpan ancaman lain yang tidak boleh dianggap sepele, apaan tuch? Kebakaran!!!Tak salah jika hampir setiap hari terdengar suara sirena meraung-raung ditengah kota hingga ke pelosok perdesaan.
Peristiwa kebakaran kerap meningkat ketika musim kemarau tiba. Api dapat muncul dari berbagai sumber dan melanda berbagai objek, mulai dari rumah tangga, vila, kawasan hutan, pabrik penyulingan cengkeh, hingga fasilitas pendidikan seperti sekolah termasuk tempat suci. Penyebabnya, penyebanya? Ya api dong, ya apinya dari mana? Oh iya..ada dari dupa bekas sembahyang, ada dari punting rokok yang dibuang sembarangan, ada kompor meledak, ada juga akibat arus pendek listrik. Bahkan dalam satu hari, pernah terjadi 10 peristiwa kebakaran yang tersebar dari ujung timur hingga ujung barat Buleleng. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi petugas pemadam kebakaran yang tersebar pada tiga tiktik pusat pengendali maisng-masing di Kubutambahan untuk wilayah timur, di Kota dan di Seririt untuk wilayah bagian barat. Ketika laporan masuk silih berganti, petugas harus berpacu dengan waktu, menempuh jarak yang tidak dekat , dan berjibaku dengan kobaran api demi menyelamatkan harta benda serta mencegah api meluas ke lingkungan sekitar.
Di tengah situasi tersebut, satu hal patut disyukuri peristiwa-peristiwa kebakaran tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun, kerugian materi yang ditimbulkan tidaklah kecil. Setiap kejadian menyisakan kehilangan dan menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran harus ditangani secara serius, bukan hanya ketika api sudah membesar. Karena itu, dibutuhkan kearifan dan keberpihakan eksekutif dan legislative dalam kebijakan, khususnya dalam memastikan kecukupan anggaran operasional penanganan kebakaran. Penanganan kebakaran membutuhkan kesiapan personel, kendaraan, bahan bakar, peralatan, pemeliharaan armada, hingga dukungan keselamatan bagi para petugas.
Jangan sampai para petugas pemadam kebakaran kehabisan energi ketika harus menghadapi tingginya frekuensi kejadian. Mereka membutuhkan dukungan yang memadai agar dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sebab, tugas pemadam kebakaran bukan hanya hadir ketika musim kemarau. Ketika musim hujan datang dan masyarakat mungkin merasa ancaman kebakaran telah berkurang, para petugas tidak serta-merta berhenti bekerja. Mereka tetap turun ke lapangan ketika terjadi kondisi darurat, termasuk membantu membersihkan jalan-jalan yang dipenuhi lumpur akibat hujan dan bencana lainnya.
Di balik seragam dan kendaraan pemadam yang bergerak cepat menuju lokasi kejadian, ada sumber daya manusia yang bekerja dengan keberanian, ketulusan, dan pengabdian. Mereka berhadapan langsung dengan panas, asap, api, medan yang sulit, serta risiko keselamatan demi membantu orang lain. Maka, sudah sepantasnya pengabdian para petugas pemadam kebakaran mendapat perhatian dan dukungan yang layak. Bukan hanya berupa pujian ketika mereka berhasil menjinakkan api, tetapi juga melalui kebijakan, fasilitas, anggaran, dan perlindungan yang memungkinkan mereka bekerja secara optimal. Kebiasaan sederhana untuk memastikan api benar-benar padam dapat menjadi bagian dari upaya bersama mencegah kebakaran. Kewaspadaan kecil hari ini dapat mencegah musibah besar di kemudian hari.
Di saat bara mengancam rumah dan kehidupan, para pemadam berdiri paling depan, membawa keberanian, ketulusan, dan harapan. Mereka datang ketika yang lain berlari menjauh. Mereka melangkah mendekati api, ketika keselamatan mereka sendiri menjadi taruhan. Di balik sirene yang meraung dan kepulan asap yang pekat, ada manusia-manusia tangguh yang memilih mengabdi. Untuk seluruh insan pemadam kebakaran Buleleng, hormat dan apresiasi setinggi-tingginya dari kami masyarakat Buleleng.
Pergi ke pasar membeli pepaya,
Pulangnya singgah membeli jamu.
Kalau api jangan diajak bercanda,
Kalau sudah menyala, Damkar yang melaju!
Tim pemberitaan Dewata Roundup.(Tut)
