Senandung Giri : Ketika Semua Ingin Disebut Pahlawan, Lalu Apa Makna Kepahlawanan?

Catus Pata, Setiap tanggal 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan. Kita mengenang mereka yang dahulu berjuang dengan darah, air mata, bahkan nyawa demi sebuah kemerdekaan. Mereka tidak sedang mengejar popularitas, jabatan, penghargaan, apalagi tunjangan. Mereka berjuang karena sebuah keyakinan: bangsa ini harus merdeka.

Namun, coba kita lihat keadaan hari ini. Istilah pahlawan seolah semakin murah. Sedikit-sedikit pahlawan, sedikit-sedikit disebut pahlawan. Semua ingin mendapatkan pengakuan, semua ingin dihargai, bahkan tidak sedikit yang merasa dirinya paling berjasa. Hehehe… Kalau semua orang ingin disebut pahlawan, lalu siapa sebenarnya pahlawan itu?

Apakah pahlawan adalah mereka yang memiliki gelar kehormatan? Mereka yang mendapatkan penghargaan negara? Ataukah mereka yang setiap bulan menerima tunjangan atas jasa-jasanya? Jangan salah paham. Pemberian tunjangan kepada para pejuang dan penerima penghargaan negara bukanlah sesuatu yang keliru. Negara memang memiliki kewajiban menghargai jasa mereka. Tetapi, apakah besarnya penghargaan otomatis menjadi ukuran besarnya kepahlawanan? Tentu tidak.

Kepahlawanan seharusnya diukur dari pengorbanan, ketulusan, keberanian, dan manfaat nyata bagi orang banyak. Lalu bagaimana dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa untuk para guru? Selama bertahun-tahun kita mengenal istilah guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sebuah sebutan yang sangat mulia. Tetapi, di tengah perubahan zaman, muncul pertanyaan  apakah guru masih layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa ketika sekarang sudah ada gaji, sertifikasi, tunjangan profesi, dan berbagai bentuk kesejahteraan?

Sesungguhnya banyak guru yang tetap bekerja dengan hati, mendidik dengan ketulusan, bahkan berjuang melampaui kewajiban formalnya. Mereka pantas mendapatkan penghormatan dan kesejahteraan. Hal yang sama berlaku bagi siapa pun. Pejabat, tokoh masyarakat, aktivis, pendidik, bahkan mereka yang sering berbicara tentang pengabdian kepada bangsa. Jangan sampai kata pengabdian hanya menjadi slogan, sementara kepentingan pribadi justru menjadi tujuan utama.

Pahlawan tidak harus miskin. Pahlawan tidak harus hidup sengsara. Pahlawan juga berhak mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan. Tetapi, penghargaan tidak boleh membuat seseorang berhenti mengabdi, dan tunjangan tidak boleh menjadi satu-satunya alasan seseorang merasa berjasa.

Barangkali yang perlu kita kritisi hari ini bukan banyaknya orang yang menerima penghargaan, melainkan semakin kaburnya batas antara pengabdian dan kepentingan ya nggak ya nggak?

Sedikit-sedikit pahlawan, sedikit-sedikit pahlawan. Hehehe… Padahal, pahlawan sejati tidak selalu sibuk meminta pengakuan. Justru terkadang, orang-orang yang paling berjasa adalah mereka yang tidak pernah merasa dirinya pahlawan.

Si Giri bersenandung “ Mari kita hormati jasa para pahlawan, tetapi jangan berhenti pada seremoni dan kata-kata. Mari kita ukur kepahlawanan dari tindakan, bukan sekadar gelar; dari keteladanan, bukan sekadar pencitraan dan dari manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar apa yang kita peroleh. Karena bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang ingin disebut pahlawan. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang benar-benar berjiwa pahlawan ”

Tim Pemberitaan Dewata Rounudp.(Tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *