
Sukasada, Desak Made Sekarini lahir di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, dari pasangan Bagus Pt. Mastra dan Jro Kt. Rai. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di masa yang penuh keterbatasan, namun justru dari situlah terbentuk ketangguhan dan semangat juangnya sejak dini.
Perjalanan pendidikannya tidaklah mudah. Pada usia 7 tahun, Sekarini kecil mulai bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Denpasar. Demi mengenyam pendidikan, ia harus tinggal jauh dari orang tua dan berpindah-pindah tempat, sebuah “sekolah nomaden” yang membentuk kemandirian sejak usia belia. Dari Denpasar, ia berpindah ke Singaraja saat kelas 2, masih tanpa pendampingan keluarga, hingga akhirnya kembali berkumpul dengan orang tua di Busungbiu saat kelas 3.
Masa kecilnya juga diwarnai oleh peristiwa sejarah besar: kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Ia menyaksikan langsung suasana yang penuh tekanan dari propaganda hingga perlakuan keras terhadap masyarakat. Pengalaman ini membekas kuat dan turut membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan, perjuangan, dan arti kemerdekaan.
Di tengah segala keterbatasan, Sekarini terus melanjutkan pendidikan. Ia menyelesaikan sekolah dasar di Banjar, kemudian pada tahun 1947 melanjutkan ke sekolah guru OVO di Karangasem. Perjalanan akademiknya berlanjut ke SGB di Singaraja, di mana ia berhasil meraih peringkat 7 besar dan melanjutkan ke SGA sebagai siswa pilihan. Prestasi ini menjadi bukti nyata kegigihan dan kecintaannya terhadap dunia pendidikan.
Kariernya sebagai guru dimulai di Tabanan. Di sana, ia mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dengan sepenuh hati. Pada November 1955, ia menikah dengan Made Tjakra, yang setia mendampingi perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai pendidik.
Dedikasi dan integritasnya sebagai guru membuahkan pengakuan di tingkat nasional. Pada tahun 1978, Desak Made Sekarini meraih juara 3 Guru Teladan tingkat SMP seluruh Indonesia, sebuah prestasi membanggakan yang mengantarkannya mendapatkan hadiah perjalanan ke Jepang dan mengakhiri masa tugas sebagai guru di SMPN 2 Singaraja. Penghargaan ini bukan hanya simbol keberhasilan pribadi, tetapi juga pengakuan atas pengabdiannya yang tulus dalam dunia pendidikan.
Bagi Sekarini, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Ia memiliki tujuan sederhana namun mulia: menjadi guru yang baik dan membantu anak-anak Indonesia menjadi cerdas. Di masa mudanya, ia tumbuh tanpa figur inspirasi karena keterbatasan zaman. Namun justru dari kekosongan itu lahir tekad kuat untuk menjadi sosok yang bisa menginspirasi orang lain.
Impian awalnya pun sangat sederhana melihat kehidupan guru yang lebih layak, bahkan sekadar mampu berbelanja dengan tenang menjadi gambaran kesejahteraan yang ia dambakan. Dari mimpi kecil itu, lahir perjuangan besar yang ia wujudkan dengan kerja keras, disiplin, dan ketekunan.
Desak Made Sekarini adalah cerminan ketangguhan perempuan Bali yang tumbuh di masa sulit namun mampu bangkit dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa. Kisah hidupnya bukan hanya tentang perjuangan pribadi, tetapi juga tentang dedikasi tanpa pamrih demi masa depan generasi penerus.
Pada 26 April 2026, Sekarini genap berusia 93 tahun. Sebuah usia yang sarat dengan pengalaman, pengabdian, dan kebijaksanaan.
Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga hari-hari ke depan dipenuhi kasih sayang keluarga, ketenangan hati, serta kebahagiaan sederhana yang selalu bermakna. Jejak langkah dan pengabdianmu akan selalu menjadi inspirasi.(tim)
