Setahun Tak Masuk Sekolah, DPRD Buleleng Soroti Kasus Siswa SDN 2 Banyuning

Buleleng, Seorang siswa di SD Negeri 2 Banyuning, Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, tercatat tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar selama lebih dari satu tahun. Kondisi ini memantik perhatian serius DPRD Buleleng karena dikhawatirkan menjadi indikasi persoalan yang lebih luas di dunia pendidikan, khususnya di wilayah perkotaan Singaraja.

Berdasarkan catatan pihak sekolah, siswa tersebut tidak hadir sejak Oktober 2024. Situasi ini bukan sekadar persoalan absensi biasa, melainkan menjadi alarm dini terhadap potensi putus sekolah yang luput dari pantauan.

Dikonfirmasi Pada Rabu (25/2), Kepala SD Negeri 2 Banyuning, Desak Putu Sri Sadwity, menjelaskan bahwa satu bulan setelah siswa tidak masuk, pihak sekolah langsung melakukan kunjungan ke rumah untuk memastikan kondisi yang bersangkutan. Namun, pendekatan awal tersebut belum membuahkan hasil signifikan.

Memasuki tahun 2025, sekolah berkoordinasi dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng untuk menghadirkan pendampingan profesional. Seorang psikolog diterjunkan melakukan asesmen langsung ke rumah siswa.

“Psikolog langsung lakukan kunjungan ke rumahnya dan bertanya langsung dengan si anak. Dengan berbagai upaya membujuk dan lain sebagainya. Awalnya tidak mau keluar rumah, akhirnya mau. Sebatas cuci muka dan bicara seadanya,” ujarnya.

Meski pendekatan psikologis telah dilakukan, hingga kini faktor utama penyebab siswa enggan kembali ke sekolah belum dapat dipastikan. Secara administratif, siswa tersebut belum dinyatakan berhenti dan namanya masih tercatat aktif dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Tidak ikut dari kelas 2 semester satu sampai sekarang. Dikatakan berhenti tidak, data anak tersebut masih ada di sekolah. Masih terdaftar di Dapodik. Arahan dari kasi kurikulum, diupayakan. Kami sudah mendata yang berpotensi drop out,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, drh. Nyoman Dhukajaya, menegaskan pihaknya akan mendorong Disdikpora Buleleng melakukan pendataan menyeluruh terhadap siswa yang berpotensi putus sekolah.

“Jangan sampai ini kejadiannya seperti fenomena gunung es, seperti calistung kemarin,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar itu menilai, potensi kasus serupa bisa saja tersembunyi di balik data administratif yang tampak normal. Ia pun mendorong sekolah untuk lebih peka melalui pendekatan personal dan penguatan kegiatan ekstrakurikuler.

“Ekstrakurikuler ini menyebabkan anak merasa nyaman berada di lingkungan sekolah. Faktor penyebab anak seperti ini agak banyak, lingkungan, guru, faktor pribadi anak, perhatian. Maka dari itu perhatian dan pendekatan dengan anak seperti tadi memang harus kita sensitif. Memang perlu penuh perhatian dalam menangani agar dia termotivasi kembali ke sekolah,” pungkasnya.(uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *