
Buleleng, Setelah satu abad lebih berdiri, pelinggih di Pura Segara Desa Adat Buleleng, Kamis (16/4/2026) direhabilitasi sebagai upaya pelestarian sekaligus peningkatan kualitas bangunan pelinggih yang ada.
Dilihat dari angka tahun candi bentar Pura Segara Buleleng bertuliskan tahun 1917, pura yang berlokasi di kawasan Pelabuhan Buleleng ini kini telah berusia 109 tahun. Prosesi pemugaran dipuput oleh Jro Mangku Nyoman Sutayasa selaku Jro Mangku Pura Segara Desa Adat Buleleng, serta dihadiri Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna bersama prajuru dan pengempon pura.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara mepiuning sebagai permohonan izin secara niskala, dilanjutkan dengan upacara mecaru dan ngeruak. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ngelinggihang Ida Bhatara serta prelina, yang ditandai dengan pembongkaran partisi bangunan pelinggih sebagai simbol dimulainya proses rehabilitasi.

Pembangunan ini bersumber dari anggaran Pemerintah Provinsi Bali sebesar Rp1 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memugar sebanyak 18 pelinggih, termasuk perbaikan sistem irigasi, instalasi, serta sarana penunjang lainnya. Proses pengerjaan diperkirakan berlangsung hingga Oktober mendatang.
Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna menjelaskan, rehabilitasi Pura Segara Buleleng diawali dari proses pengajuan proposal kepada Pemerintah Provinsi Bali.
“Rehab ini berawal dari usulan desa adat kepada Bapak Gubernur Bali, dan kami sangat bersyukur bisa terealisasi. Ini menjadi upaya bersama untuk menjaga warisan leluhur agar tetap lestari,” ujar Sutrisna.
Sementara itu, rehabilitasi pelinggih akan digarap oleh Jro Undagi Putu Budiasa yang juga Jro Mangku Pura Segara Banyuning. Seluruh pelinggih akan direhab, termasuk pelinggih Meru yang akan mengalami perubahan pada bagian atap dan ketinggian.
“Semua pelinggih direhab agar kembali sesuai dengan pakem dan tetap kokoh. Khusus Meru memang ada penyesuaian bentuk dan tinggi, namun tetap mengacu pada kaidah tradisional,” jelas Jro Undagi Putu Budiasa.
Seluruh rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat, sebagai cermin semangat gotong royong dan bhakti umat dalam menjaga kesucian serta kelestarian pura.(tut)
