
Denpasar, IAHN Mpu Kuturan berkontribusi dalam pembentukan identitas Bhakti Pertiwi Widyalaya 2026 melalui perancangan logo, mars, dan hymne Widyalaya, serta keterlibatan aktif dalam kepanitiaan Parade Budaya yang digelar di Denpasar, Bali, 12–13 Februari 2026.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peluncuran logo, mars, dan hymne Widyalaya pada Kamis, 12 Februari 2026 di Kampus Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Peluncuran tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Sehari berselang, Menteri Agama secara resmi membuka Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya di Lapangan Puputan, Denpasar, Jumat, 13 Februari 2026. Dalam sambutannya, Nasaruddin menekankan pentingnya konsep ekoteologi sebagai bagian dari penguatan pendidikan keagamaan.
“Hari ini yang kita saksikan bukan sekadar pementasan seni dan budaya, tetapi representasi kesadaran dalam ekoteologi,” ujarnya.
Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, I Nengah Duija, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya. Saat ini tercatat sekitar 146 sekolah widyalaya di Indonesia, mulai dari Pratama Widyalaya, Adi Widyalaya, Madyama Widyalaya, hingga Utama Widyalaya.
Menurutnya, konsep Parade Budaya mencerminkan ekoteologi yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama RI. Para peserta pun diminta menggunakan sarana parade berbahan daur ulang sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah di Bali yang telah memberikan hibah lahan untuk pembangunan widyalaya, seperti yang dilakukan oleh Pemkab Jembrana dan Pemkab Gianyar.
“Kami berharap keberadaan Widyalaya tidak hanya menjadi perhatian Pemerintah Pusat, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah sebagai amunisi pengembangan ke depan,” imbuhnya.
Koordinator Tim Kesenian IAHN Mpu Kuturan, Putu Ardiyasa, mengungkapkan bahwa keterlibatan kampus tidak hanya pada perancangan identitas visual dan musikal, tetapi juga dalam penyusunan acara, protokol, hingga koordinasi kepanitiaan parade.
“Ini menjadi tonggak awal bagi kami. Kami dipercaya merancang logo, mars, dan hymne yang akan digunakan secara nasional, sekaligus terlibat dalam koordinasi kepanitiaan,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan utama dalam proses kreatif adalah menyelaraskan berbagai gagasan menjadi satu visi artistik yang utuh dalam waktu terbatas. Namun melalui diskusi dan kolaborasi tim, seluruh proses dapat diselesaikan dengan baik.
Hal senada disampaikan Rektor IAHN Mpu Kuturan, I Gede Suwindia, yang menyebut kepercayaan tersebut sebagai kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi institusi.
“Kepercayaan ini menjadi kebanggaan bagi kami sebagai institusi pendidikan di daerah yang turut berkontribusi pada agenda tingkat nasional,” ujarnya.
Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya diikuti sekitar 600 peserta dari jenjang Pratama Widyalaya (PAUD), Adi Widyalaya (SD), Madyama Widyalaya (SMP), dan Utama Widyalaya (SMA) se-Provinsi Bali.
