
Singaraja, Regenerasi menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan seni wayang dan prasi di Buleleng. Pemerintah Kabupaten Buleleng mendorong generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga tertarik mempelajari keterampilan membuat karya seni tradisi tersebut.
Upaya itu dilakukan melalui lomba membuat wayang dan prasi yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Buleleng di Gedung Sasana Budaya, Rabu (16/9).
Lomba diikuti perwakilan dari sembilan kecamatan. Masing-masing kecamatan mengirimkan satu peserta untuk lomba wayang dan satu peserta untuk lomba prasi.
Kepala Disbudpar Buleleng, Nyoman Wisandika, mengatakan pelaksanaan tahun ini dibuat lebih sederhana dengan dua jenis lomba. Untuk wayang, peserta membuat tokoh Sahadewa, melanjutkan rangkaian Pandawa yang sebelumnya mengangkat Yudistira, Bima, Arjuna, dan Nakula. Sementara lomba prasi mengangkat tema Sutasoma.
“Memang tahun ini lebih sederhana. Sekarang ada dua lomba, yaitu membuat wayang dan prasi. Jadi, wayang ini sebenarnya ini episode terakhir ini. Karena kemarin kan Yudistira sudah, Bima sudah, Arjuna sudah, Nakula sudah, sekarang Sahadewanya,” ujarnya.
Peserta berusia 15 hingga 25 tahun diberikan waktu lima jam untuk menyelesaikan karya. Menurut Wisandika, lomba tidak semata-mata untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi ruang memperkenalkan kembali keterampilan seni tradisi kepada generasi muda.
“Salah satunya memang untuk regenerasinya, terutama prasi itu. Karena prasi itu kan cerita bergambar. Cerita di atas daun lontar, itu memang agak susah. Termasuk wayangnya,” kata dia.
Wisandika berharap peserta yang memiliki minat dapat terus mendapat pembinaan sehingga kegiatan ini menjadi pintu masuk lahirnya seniman dan pengrajin baru.
“Tentu ini juga sebagai upaya-upaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kemudian Gedong Kirtya untuk terus melakukan pelestarian, perlindungan pelestarian adat budaya yang kita miliki, khususnya di Buleleng,” ucapnya.
Sementara itu, tim juri sekaligus pengrajin wayang, Ketut Reka, mengatakan karakter khas wayang Buleleng menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penilaian. Selain bentuk akhir, juri menilai estetika, ukiran, pewarnaan, serta gaya wayang Buleleng.
Menurut Reka, wayang Buleleng memiliki karakter berbeda dengan daerah lain di Bali. Bahkan, terdapat perbedaan gaya antara wilayah Buleleng Barat dan Buleleng Timur.
“Di Bali itu ada banyak style (wayang), termasuk Bali Selatan pun mereka punya style masing-masing. Seperti Tabanan, Gianyar, Bangli, Denpasar beda dia. Jadi, Buleleng itu ada juga terbagi dia, terbagi dua. Di bagian Buleleng Barat sama Buleleng Timur. Beda dia juga jenis style wayang. Dari bentuk, dari ukirannya juga beda,” katanya.
Reka menyebut regenerasi pengrajin menjadi tantangan karena jumlah pengrajin wayang yang memiliki keterampilan tradisional semakin terbatas. Karena itu, lomba diharapkan mampu memancing ketertarikan generasi muda untuk mengenal tidak hanya tokoh dan cerita wayang, tetapi juga keterampilan di balik pembuatannya.(uka)
