
Catus Pata, Sosok yang mampu tampil sebagai alternatif tentu bisa mengubah seluruh kalkulasi. Jika muncul kandidat dengan rekam jejak kuat, jaringan luas, visi yang menjanjikan, dan mampu mengonsolidasikan kelompok-kelompok yang selama ini tidak berada dalam satu barisan, maka “Putra Mahkota” tidak serta-merta akan berjalan tanpa hambatan. Bahkan, bukan tidak mungkin terjadi pertarungan antara kekuatan lama, kekuatan penerus, dan kekuatan pembaruan.
Sejarah “Perang Terbuka”
Undiksha sendiri bukan kampus yang sama sekali asing dengan dinamika pemilihan rektor. Sejarah mencatat, kontestasi menuju kursi rektor pernah diwarnai “perang terbuka” ketika Nyoman Jampel terpilih sebagai rektor. Saat itu, Jampel masih relatif muda dalam jenjang akademik dan baru menyandang gelar doktor. Namun, ia mampu menembus konfigurasi kekuatan yang ada dan memenangkan pertarungan. Ketika itu sejumlah guru besar membuat koalisi dan menyatakan “perang terbuka” dengan memasang berbagai spanduk perlawanan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan bahwa dalam pemilihan rektor, nama besar dan senioritas bukan satu-satunya mata uang politik kampus.
Ada momentum. Ada jaringan. Ada konsolidasi. Dan tentu saja, ada keberanian untuk tampil. Sejarah tersebut bisa kembali menjadi cermin dalam pemilihan rektor periode 2027–2031.
Jika The Rising Star benar-benar muncul, pertarungan bisa menjadi menarik. Terlebih apabila kandidat tersebut mampu mengonsolidasikan kelompok-kelompok kecil yang kini mulai bergerak dan menyatukannya dalam sebuah koalisi yang solid. Namun, ada pula pertanyaan lain yang tak kalah menarik. Apakah ruang bagi kandidat alternatif benar-benar terbuka lebar?
Di tengah menguatnya nama “Putra Mahkota”, beredar pula spekulasi mengenai adanya “The Great Barrier Reef”—tembok besar yang secara politik mampu membatasi ruang gerak kandidat lain. Jika tembok itu benar-benar ada, maka pertarungan bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang mampu menembusnya. Bahkan, muncul selentingan bahwa The Rising Star bisa saja “dikandangkan” sebelum benar-benar tampil di arena. Kalau ini benar-benar terjadi maka pemilihan rektor kedepan ibarat sebuah dagelan demokrasi ya nggak ya nggak? Tentu, semua itu masih berupa dinamika dan spekulasi. Jawaban sesungguhnya baru akan terlihat ketika proses pendaftaran resmi dibuka dan nama-nama bakal calon mulai bermunculan.
Demokrasi Kampus Diuji
Pemilihan Rektor Undiksha 2027–2031 pada akhirnya bukan sekadar perebutan kursi kekuasaan. Ini adalah ujian bagi demokrasi akademik di salah satu perguruan tinggi penting di Bali Utara. Apakah kekuatan jaringan dan trah kepemimpinan masih menjadi faktor dominan? Apakah gagasan tentang kesinambungan lebih kuat daripada keinginan perubahan? Ataukah akan muncul kandidat baru yang mampu mengonsolidasikan suara dan membuat peta permainan berubah total? Jika koalisi-koalisi kecil benar-benar telah terbentuk, maka September nanti bukan sekadar masa pendaftaran. September bisa menjadi awal terbukanya perang strategi. Dan seperti pengalaman masa lalu, Undiksha telah menunjukkan bahwa kejutan selalu mungkin terjadi. Putra Mahkota boleh menguat. The Rising Star boleh saja belum terlihat. Tetapi dalam sebuah pemilihan, siapa pun yang merasa sudah menang sebelum suara dihitung, justru bisa menjadi pihak yang paling terkejut. Ini Buleleng, Bung. Si Giri bersenandung “ Dinamika Politik kampus dengan julukan 999 jendela punya caranya sendiri untuk bekerja. Yang kebut, bisa saja kena gabyut ya nggak ya nggak”
Tim Pemberitaan Dewata Round up.(tut)
