
Catus Pata, Titik Nol Singaraja kini telah menjadi salah satu ruang publik yang hidup. Setiap sore hingga malam, kawasan ini dipenuhi warga yang datang untuk berjalan kaki, nutur kangin kauh, , menikmati kuliner, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. Pembangunan ruang public ini patut diapresiasi karena ruang publik yang nyaman memang menjadi kebutuhan masyarakat. Apalagi dalam waktu dekat ini Buleleng Festival akan Kembali digelar oleh pemkab Buleleng. Walau baru saja diresmikan titik nol sebagai icon baru Buleleng ini sudah dimanfaatkan untuk pertunjukan berskala kecil. Bahkan tamu domistik dan manca negara mulai memanfaatkannya untuk angel berfoto. Namun, di balik keramaian itu, ada pertanyaan yang layak diajukan. Apakah Titik Nol hanya akan menjadi tempat berkumpul, atau juga menjadi ruang yang mampu menceritakan identitas Buleleng?
Sebagai kawasan yang berada di jantung kota, Titik Nol semestinya tidak hanya menjadi penanda jarak. Lokasi ini juga dapat menjadi penanda sejarah. Nama Singa Ambara Raja yang melekat pada Buleleng seharusnya tidak berhenti sebagai simbol, melainkan hadir dalam konsep penataan kawasan, ornamen, arsitektur, hingga narasi yang dapat dipahami oleh masyarakat maupun wisatawan.
Si Giri bersenandung “ Kan ada Peraturan Daerah Kabupaten Buleleng Nomor 1 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung. . Pada Pasal 43 ayat (1) disebutkan: “Arsitektur bangunan gedung non tradisional Bali menampilkan gaya arsitektur tradisional Bali dengan menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali yang selaras, seimbang dan terpadu dengan lingkungan setempat.” Artinya artinya ?? Pembangunan ruang publik tidak hanya berbicara mengenai fungsi dan estetika, tetapi juga tentang bagaimana identitas budaya Bali tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wajah kota.
Jika Yogyakarta memiliki kawasan Titik Nol Kilometer yang telah berkembang menjadi ruang publik sekaligus ikon wisata dan sejarah. Orang datang bukan hanya untuk duduk dan berfoto, tetapi juga untuk menikmati suasana kawasan bersejarah yang memiliki narasi kuat.
Bagaimana dengan Buleleng ? Buleleng memiliki sejarah, budaya, dan identitas yang berbeda. Justru kekhasan Singa Ambara Raja arsitektur Bali, dan jejak sejarah Kota Singaraja adalah modal yang tidak dimiliki daerah lain. Mungkin inilah saatnya Titik Nol tidak hanya dikenal sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai ruang yang “bercerita”. Sebab sebuah kota akan lebih mudah dikenang ketika setiap sudutnya memiliki makna. Dan makna itu lahir dari keberanian menjaga sejarah, menghormati regulasi, serta merawat identitas daerah.
Sementara pada sebuah warung tuak dibucu kaje kauh terdengar diskusi yang cukup menarik untuk disimak. “ Bangunann ane sube melah-melah buin toktoke, rurunge ane bongkang-bongkang depine. Kenken Kaden pertimbangane. Nto ianu labuh ulian jalan usak nyen tanggungjawab? Adi singnyak ne malu benaine. Nah tuah jee KPL? Keneh pade len he he he. Sementara dari sebuah sudut kursi seorang mencoba menjelaskan bahwa pemerintah Sudah menyiapkan sejumlah angaran untuk mengaspal jalan. “Jalane lakar Aspale”,” sahut pengunjung warung lainnya. Eh sing kegugu sahut yang lain. Yen jalane usak asepale kegugu,” sahut yang lainnya sambil nyeruput rokok karena suasana dingin.
Melalui wakil rakyat mereka mengadu dan kepada Tuhan mereka berdoa agar jalan berlubang segera terbantu , mengingat tempat mesadu yang dijanjikan hingga kini masih semu. Sebab ketika ruang untuk menyampaikan keluhan belum benar-benar hadir, maka warung tuak tetap menjadi ruang publik yang paling jujur, tempat cerita, kritik, harapan, dan tawa berbaur dalam satu meja sederhana di Kaje Kauh.
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
