
Catus Pata, Pembangunan titik nol di pusat Kota Singaraja kini tinggal selangkah lagi menuju rampung. Sebagai penanda, sebuah pal berdiri kokoh di titik nol yang menjadi jantung kota Singaraja. Proyek penataan kawasan ini dibangun dengan dukungan dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Kabupaten Badung sebesar 40 miliar
Meski belum sepenuhnya selesai, kawasan ini sudah berhasil menarik perhatian masyarakat. Banyak warga datang sekadar melihat-lihat, berfoto, atau berswafoto dengan latar bangunan yang menghadirkan nuansa tempo dulu. Tata letak dan desain kawasan ini seakan mengajak pengunjung menelusuri kembali jejak sejarah Singaraja sebagai kota tua yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali Utara. Walau disadari pro kontra di media sosial masih berlanjut. Men kapan perbaikan jalan-jalan yang rusak?
Namun, di balik daya tarik yang mulai tumbuh, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana dengan daya rawatnya?
Belakangan, mulai terlihat sejumlah perilaku yang patut menjadi perhatian. Ada warga yang membawa anjing peliharaan ke kawasan tersebut tanpa memperhatikan kebersihan lingkungan. Kotoran hewan yang dibiarkan begitu saja tentu dapat mengurangi kenyamanan dan menimbulkan rasa jijik bagi pengunjung lain. Jika sejak awal kesadaran menjaga fasilitas publik masih rendah, maka tantangan terbesar bukan lagi membangun, melainkan merawat.
Perlu dipahami bahwa risiko dari setiap pembangunan adalah munculnya biaya pemeliharaan yang harus ditanggung secara berkelanjutan. Jangan sampai muncul anggapan bahwa urusan perawatan nantinya kembali mengandalkan bantuan dari luar daerah, termasuk BKK. Pembangunan fisik mungkin dapat dibantu, tetapi keberlanjutan sebuah kawasan sangat ditentukan oleh komitmen Pemkab Buleleng dan kesadaran masyarakat setempat.
Lebih dari itu, warga Buleleng juga perlu menunjukkan bahwa budaya merawat fasilitas publik sudah semakin kuat. Jangan sampai muncul kembali anggapan lama tentang rendahnya kepedulian terhadap aset bersama. Candaan seperti, “Jangankan taman, besi traffic light saja bisa dibengkokkan,” semestinya cukup menjadi pengingat masa lalu, bukan gambaran kebanggan masa kini
Karena itu, keberhasilan Titik Nol Singaraja tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau ramainya pengunjung, tetapi juga dari kemampuan semua pihak menjaga kebersihan, ketertiban, dan kelestariannya. Daya tarik memang penting untuk mendatangkan orang. Namun tanpa daya rawat, daya tarik itu tidak akan bertahan lama ya nggak ya nggak?
Selain itu, narasi yang dibangun terhadap kawasan ini juga perlu berangkat dari identitas sejarah yang kuat. Jangan sekadar mengejar slogan “Jogjanya Bali”. Sejak awal, Pemkab Buleleng harus berani menegaskan bahwa Buleleng adalah bagian penting dari sejarah Sunda Kecil. Dengan demikian generasi muda, khususnya Gen Z, dapat memahami bahwa Buleleng pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah kawasan timur Indonesia.
Titik Nol Singaraja sebagai salah satu daya tarik untuk datang ke Buleleng sudah didepan mata. Simbol kebanggaan, ingatan sejarah dan sekaligus tantangan kedewasaan masyarakat dalam menjaga apa yang telah dibangun bersama telah tercipta. Daya tarik akan mengundang orang datang, tetapi daya rawatlah yang menentukan apakah mereka ingin kembali.
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
