
Catus Pata, Menjelang Hari Raya Keagamaan Nasional (HBKN), kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga kembali mengemuka. Tahun ini, momentum Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri yang berhimpitan pada bulan Maret menjadi perhatian serius, baik bagi pemerintah daerah maupun pelaku usaha. Kombinasi dua perayaan besar ini berpotensi mendorong lonjakan permintaan barang dan jasa dalam waktu yang hampir bersamaan.
Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan keagamaan kerap menjadi salah satu pemicu inflasi. Di Buleleng kebutuhan upacara seperti canang sempat menjadi sorotan karena meningkatnya harga bahan baku mulai dari janur, bunga, hingga buah-buahan. Kenaikan permintaan yang tidak diimbangi pasokan memadai membuat harga melonjak dan turut menyumbang inflasi daerah. Pertanyaannya, apakah kondisi serupa akan kembali terulang tahun ini?
Potensi inflasi tetap ada. Perayaan Nyepi identik dengan peningkatan kebutuhan sarana upacara dan konsumsi. Demikian halnya dengan Idul Fitri mendorong kenaikan konsumsi bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, daging ayam, dan telur. Eit…biasanya harga di laporan lebih rendah dari harga pasar he he he. Alias laporan asal bapak senang sekali ya nggak ya nggak? Oleh karenanya butuh pengamatan intelijen yang enar-benar, bukan sebatas kunjungan pasar ceremonial padahal rakyat sudah menjerit. Kalau nggak percaya coba cek harga cabe dan bawang di pasaran. Lalu bandingkan dengan harga yang ada pada laporan….
Namun demikian, peluang pengendalian inflasi tetap terbuka. Kunci utamanya terletak pada kesiapan pasokan dan kelancaran distribusi. Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah , TPID perlu memastikan ketersediaan bahan pokok serta bahan upacara tetap aman. Operasi pasar murah, hingga pemantauan harga secara rutin menjadi langkah antisipatif yang penting.
Di sisi lain, peran masyarakat juga tidak kalah penting. Belanja secara bijak dan tidak berlebihan dapat membantu menjaga stabilitas harga. Produsen dan pedagang pun diharapkan tidak memanfaatkan momentum hari raya untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
Momentum berhimpitnya Nyepi dan Idul Fitri memang menjadi tantangan tersendiri. Namun dengan koordinasi yang baik, kesiapan pasokan, serta kesadaran kolektif semua pihak, inflasi dapat tetap terkendali. Hari raya seharusnya menjadi momen penuh kedamaian dan kebahagiaan, bukan kekhawatiran akibat lonjakan harga.
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(Tut)
