Senandung Giri : Banjir Pancasari Berulang Tahun Masih Percaya Mitos Desa Benyah

Catus Pata, Banjir di Pancasari kembali datang. Seperti tamu lama yang hafal jadwal, air meluap tanpa sasaran yang jelas ini  hadir hampir setiap musim hujan, seakan merayakan hari jadinya sendiri. Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus mengulang cerita yang sama dengan dalih yang juga sama ? Apakah menunggu kondisi seperti nama awal desa ini  yang bernama Desa Benyah? Apakah banjir ini seolah banjir adalah takdir sejarah yang tak bisa dihindari. Padahal, persoalannya jauh dari sekadar mitos. Ini adalah soal perencanaan, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi mengeksekusi solusi ya nggak ya nggak?

Ironisnya, rencana penanganan banjir sebenarnya sudah ada sejak dulu dari Bupati Putu Bagiada, Agus Suradnyana hingga Pj Bupati Ketut Lihadnyana.  Kajian demi kajian dibuat, rapat demi rapat digelar. Namun hasilnya sering berhenti di atas kertas. Yang terjadi di lapangan hanyalah solusi tambal sulam: tambal sana, tambal sini. Begitu satu titik aman, titik lain kebanjiran. Banjir surut, masalah pun ikut “disurutkan” dari perhatian.

Yang lebih ironis adalah  perencanaan biasanya muncul saat musim hujan, ketika air sudah masuk rumah warga. Semua terlihat darurat, semua terasa mendesak. Namun ketika dana akhirnya cair di musim kemarau, eksekusi justru meleset bukan melesat he he he. Prioritas bergeser, semangat mengendur, dan banjir pun kembali menunggu giliran datang tahun depan. Jika ada dana, rencana baru muncul lagi. Jika dana kurang, rencana lama ditambal sedikit. He-he, begitulah siklusnya. Yang berulang bukan hanya banjir, tetapi juga pola pikir dan cara kerja.

Sudah saatnya di era Sutjidra-Supriatna , Pancasari berhenti diposisikan sebagai korban mitos atau sekadar wilayah langganan bencana. Banjir bukan perayaan tahunan yang harus diterima dengan pasrah. Bencana musiman  ini adalah alarm keras bahwa ada yang salah dalam tata kelola lingkungan dan kebijakan. Tanpa perubahan pendekatan yang serius dari reaktif menjadi preventif, dari simbolis menjadi substansial banjir Pancasari akan terus “berulang tahun”. Dan yang bertambah usia bukan hanya masalahnya, tetapi juga kekecewaan warganya ya ngak ya nggak

Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(Tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *