Senandung Giri : Predator Anak Masih Mewarnai Buleleng?

Catus Pata, Kasus dugaan kekerasan terhadap anak kembali mencoreng wajah Buleleng. Meski proses hukum belum mencapai vonis, arah penyelidikan dan penyidikan sudah menunjukkan sinyal yang serius. Hasil pemeriksaan medis dari RSUD Buleleng menguatkan adanya indikasi kekerasan terhadap anak yang bukan  sekadar isu tapi peringatan keras. Padahal Buleleng menyandang kota layak anak. Pertanyaannya apakah predikat ini maish layak disematkan pada Buleleng?

Pemerintah Kabupaten buleleng tidak bisa lagi bersikap reaktif. Pengawasan terhadap panti asuhan dan lembaga pengasuhan anak harus dilakukan secara aktif, rutin, dan transparan. Tidak cukup hanya mengandalkan laporan atau inspeksi formalitas. Harus ada audit berkala, mekanisme pengaduan yang aman bagi anak, serta evaluasi menyeluruh terhadap pengelola dan sistem pengasuhan.

Relokasi korban bukan jawaban tuntas, memindahkan anak dari satu titik rawan ke tempat lain tanpa jaminan keamanan hanya memindahkan risiko. Di sinilah rumah aman dibutuhkan. Eh iya ya….Bukankah Buleleng sejak Bupati Putu bagiada mewacanakan rumah aman? Apakah fasilitas itu benar-benar sudah ada? Jika ada, apakah dikelola dengan standar perlindungan yang ketat? Atau hanya sekadar tempat yang diberi label rumah aman, padahal fasilitas yang ada belum benar-benar aman.  Dewan sudah semestinya memberikan anggaran khsusu kepada Dinas Sosial untuk mewujudkan rumah aman sesuai standar. ya nggak ya nggak?

Melalui kecanggihan teknologi setiap penghuni panti asuhan harus diberikan akses untuk melapor kepada pihak terkait dengan system privasi yang benar-benar dijaga. Jangan sampai pemerintah seperti pasukan pemadam kebakaran, baru bergerak setelah predator anak begak he he he.(Tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *