Program Guru Bantu Dipercaya Atasi Kekurangan Ribuan Guru di Buleleng

Singaraja, Program asisten guru atau guru bantu dipercaya dapat atasi kekurangan ribuan guru di gumi Den Bukit.

Julukan Kota Pendidikan yang selama ini melekat pada Kota Singaraja kembali dipertanyakan. Setelah sebelumnya dunia pendidikan di Kabupaten Buleleng dihebohkan dengan temuan ratusan siswa yang belum cakap membaca, kini persoalan krisis tenaga pendidik menjadi sorotan serius.

Data terbaru Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng menunjukkan jumlah kekurangan guru terus meningkat. Jika sebelumnya kebutuhan tenaga pendidik diperkirakan mencapai 1.056 orang untuk jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP, pada tahun 2025 angka tersebut bertambah menjadi 1.134 orang.

Kondisi ini mendapat perhatian dari akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, Prof. I Wayan Widiana menilai kekurangan tenaga pendidik berpotensi memicu persoalan baru di sektor pendidikan, terutama terhadap kualitas pembelajaran siswa. Menurutnya, keterbatasan jumlah guru membuat banyak sekolah harus membagi beban mengajar kepada tenaga pendidik yang ada, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan optimal.

“Ini bukan hanya soal jumlah guru, tetapi berdampak pada kualitas pembelajaran. Fondasi literasi, numerasi, literasi finansial, hingga literasi digital menjadi sulit diperkuat jika tenaga pendidik tidak mencukupi,” jelasnya.

Sebagai solusi jangka pendek, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan itu menyarankan pemerintah daerah untuk menerapkan program guru bantu atau asisten guru. Program ini dapat melibatkan mahasiswa semester akhir dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar sementara.

Menurutnya, Bali memiliki sejumlah LPTK yang setiap tahun meluluskan ribuan calon guru, seperti Universitas Pendidikan Ganesha serta Institut Mpu Kuturan Singaraja, yang dinilai memiliki potensi besar mendukung program tersebut.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, sebelumnya menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan kebutuhan guru ASN serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait usulan formasi tenaga pendidik.

“Kita sudah melakukan pemetaan melalui penyesuaian fase, termasuk juga untuk guru honorer yang tercatat dalam Dapodik masih diberikan kesempatan bertugas hingga saat ini,” ujarnya.

Program guru bantu diharapkan menjadi solusi sementara untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, sekaligus mencegah penurunan kualitas pendidikan di tengah keterbatasan tenaga pendidik di Kabupaten Buleleng. (dnu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *