
Catus Pata, Rencana pembangunan gedung baru RSUD Buleleng dengan estimasi anggaran Rp200 miliar patut diapresiasi. Demi meningkatkan pelayanan kesehatan dan mengurai antrean panjang di Instalasi Bedah Sentral (IBS), Pemkab Buleleng bahkan mempertimbangkan skema pembiayaan yang memungkinkan pinjaman daerah. Namun, kalau sampai harus berutang demi pelayanan kesehatan, hasilnya harus benar-benar terasa oleh masyarakat. Sebab, uang pinjaman bukan uang gratis. Ada kewajiban membayar kembali yang harus diperhitungkan secara cermat dan transparan.
Langkah ini sejalan dengan misi duet Bupati I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui sumber daya profesional dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Namun, ketika misi tersebut diwujudkan melalui investasi besar, publik tentu berharap hasilnya bukan sekadar gedung baru. Jangan sampai gedungnya bertingkat sementara pelayanan jalan ditempat he he he
Dua gedung baru, masing-masing empat lantai, direncanakan untuk memperkuat pelayanan PONEK, NICU, IBS, dan Stroke Center. Ini langkah menjanjikan. Tetapi jangan sampai pembangunan hanya sibuk mengejar beton dan bangunan, sementara persoalan antrean, tenaga profesional, dan kecepatan pelayanan justru luput dari perhatian. RSUD Buleleng dengan motto PRISMA yakni Peduli, Responsif, Integritas, Sentuhan, Mudah, dan Aman. Visinya pun jelas, menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat dengan pelayanan berkualitas dan profesional.
Motto dan visi tersebut jangan hanya indah terpampang di dinding. Peduli harus dirasakan pasien, responsif harus dibuktikan melalui kecepatan pelayanan, dan mudah harus berarti prosedur yang tidak berbelit-belit. Sebab, rumah sakit pilihan utama tidak dibentuk oleh megahnya gedung, melainkan oleh kepercayaan masyarakat. Karena itu, pembangunan harus dibarengi pembenahan sistem pelayanan, kesiapan tenaga medis, kelengkapan alat kesehatan, serta target yang terukur. Jika pinjaman ditempuh, manfaatnya harus sebanding dengan beban keuangan yang ditanggung daerah.
Si Giri bersenandung “ Jangan sampai Pemkab sudah rela pinjam uang demi membangun rumah sakit, tetapi setelah rampung, tingkat huniannya 100 persen seperti hotel saat musim liburan he he he. Bedanya, hotel penuh bisa membuat pengelolanya tersenyum, sedangkan rumah sakit yang penuh karena antrean pasien tak terurai justru merupakan alarm. Gedung boleh bertingkat, tetapi pelayanan harus meningkat. Uang pinjaman harus dibayar, dan janji pelayanan wajib dibuktikan ya nggak ya nggak?”
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
