
Catus Pata, Kesadaran masyarakat Buleleng untuk mendonorkan darah terus meningkat. Informasinya sepanjang tahun 2025, Unit Donor Darah PMI Buleleng berhasil menghimpun 13.989 kantong darah, melampaui target sebanyak 13.500 kantong atau mencapai 103 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat semakin tumbuh.
“Kalau pendonornya sudah banyak, mengapa masyarakat masih sering kesulitan mencari darah?” Pertanyaan seperti ini kerap muncul ketika ada keluarga pasien yang membutuhkan transfusi dalam kondisi darurat. Sekilas memang terdengar bertolak belakang. Namun, kenyataannya, ketersediaan darah bukan hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang mendonor, melainkan juga oleh proses panjang sebelum darah tersebut benar-benar siap diberikan kepada pasien.
Darah harus melalui serangkaian proses, mulai dari pemeriksaan kesehatan pendonor, pengujian laboratorium untuk memastikan bebas dari penyakit menular, pemisahan menjadi komponen darah sesuai kebutuhan pasien, hingga penyimpanan dengan standar yang ketat. Selain itu, setiap golongan darah memiliki masa simpan yang terbatas dan kebutuhan yang berbeda-beda. Karena itulah, ada kalanya stok darah tertentu tetap mengalami kekurangan meskipun jumlah pendonor secara keseluruhan cukup tinggi.
Inilah yang perlu dipahami bersama. Donor darah bukan sekadar memenuhi target jumlah kantong darah, tetapi juga menjaga keberlanjutan pasokan yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan pasien setiap saat. Oleh karena itu, donor darah harus dilakukan secara rutin dan sukarela, bukan hanya ketika ada keluarga atau kerabat yang membutuhkan.
Keberhasilan melampaui target pada tahun 2025 tentu tidak lepas dari kerja keras para relawan, komunitas, instansi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat yang terus mengampanyekan pentingnya donor darah. Sebagai bentuk apresiasi, PMI juga memberikan penghargaan kepada para penggerak pendonor darah yang selama ini menjadi motor penggerak aksi kemanusiaan di Buleleng. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas dedikasi mereka dalam menumbuhkan budaya berbagi kehidupan melalui donor darah.
Membangun kesadaran donor darah adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Semakin banyak masyarakat memahami proses di balik setetes darah, semakin besar pula kepedulian untuk mendonor secara teratur. Pada akhirnya, setiap kantong darah yang tersedia adalah hasil dari kepercayaan, kepedulian, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Walaupun kini telah memasuki jaman digital namun darah tidak dapat diproduksi oleh mesin, tidak dapat dibeli di pabrik, dan tidak dapat digantikan oleh AI. Darah hanya bisa diberikan oleh sesama manusia. Ketika kita berbagi setetes darah, sesungguhnya kita sedang memberi seseorang kesempatan untuk melanjutkan hidup.
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
