
Catus Pata, Pesta rakyat ternyata bukan hanya milik kota. Kini denyut hiburan, seni, dan budaya juga hidup di masing-masing kecamatan di Kabupaten Buleleng. Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui kebijakan Bupati menggulirkan dana sebesar Rp 150 juta untuk setiap kecamatan agar mampu menghadirkan festival yang dekat dengan masyarakat. Langkah ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak semata berpusat di kota, tetapi juga menyentuh desa dan kecamatan sebagai akar kehidupan masyarakat.
Dari beberapa festival kecamatan yang telah digelar, hampir sebagian besar mengangkat tema budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa budaya di Buleleng masih sangat kental dan hidup di tengah masyarakat. Kekayaan tradisi, seni tabuh, tari, hingga kearifan lokal menjadi identitas yang tidak boleh ditinggalkan. Budaya inilah sesungguhnya yang mestinya dijadikan pijakan oleh pemerintah dalam membangun Buleleng ke depan. Sebab kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga jati diri dan warisan leluhur.
Nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali seperti asah, asih, lan asuh, saguluk salunglung sebayantaka, tampak nyata dalam pelaksanaan festival-festival tersebut. Masyarakat bergotong royong, saling membantu, dan bersama-sama menyukseskan acara di wilayahnya masing-masing. Festival menjadi ruang bertemu antara pemerintah dan rakyat, sekaligus mempererat rasa persaudaraan di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Ibarat meniru gaya kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti terhadap Teruna Goak, pemimpin tidak hanya hadir memberi perintah, tetapi turun langsung membangun semangat rakyatnya. Ki Barak Panji Sakti dikenal mampu menyatukan kekuatan masyarakat dengan keberanian, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap tanah Buleleng. Semangat itulah yang tampaknya ingin dibangun melalui festival kecamatan, yakni menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri sekaligus menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama memajukan daerahnya.
Memang, ketika mendengar kata “festival”, bayangan yang muncul tentu sebuah kegiatan yang megah dan meriah. Dengan anggaran Rp 150 juta, tentu ada yang merasa masih kurang. Namun ada anekdot yang sering terdengar: diberi sedikit terasa cukup, diberi banyak tetap terasa kurang. Karena itu, yang terpenting bukan semata besar kecilnya anggaran, melainkan bagaimana kegiatan tersebut mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Festival kecamatan jangan hanya menjadi panggung hiburan semata. Lebih dari itu, festival harus menjadi sarana edukasi kepada masyarakat tentang berbagai pencapaian dan program pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng. Masyarakat perlu mengetahui arah pembangunan daerahnya, sekaligus merasakan kehadiran pemerintah di tengah kehidupan mereka.
Festival kecamatan juga menjadi sasaran antara menuju Buleleng Festival yang akan digelar pada Agustus mendatang. Kecamatan-kecamatan terbaik nantinya akan mendapat kesempatan tampil di ajang yang lebih besar. Dengan demikian, festival ini bukan sekadar hiburan sesaat, melainkan ruang pembinaan kreativitas, pelestarian budaya, dan penguatan identitas Buleleng di masa depan.
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(Tut)
