
Catus Pata, Mengawali bulan April tahun ini kabar duka menyelimuti Buleleng. Seorang balita meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue, DBD , penyakit yang dari tahun ke tahun terus berulang, terus memakan korban. Pertanyaannya sederhana sampai kapan kematian demi kematian ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah?
DBD bukan penyakit baru. Polanya jelas, siklusnya bisa diprediksi, bahkan cara pencegahannya sudah berulang kali disosialisasikan. Namun, setiap tahun kita seperti memulai dari nol. Ketika korban mulai berjatuhan, barulah semua pihak tampak sibuk. Fogging dilakukan, imbauan disuarakan, rapat digelar. Tapi setelah itu? Sepi lagi; Seolah persoalan selesai seiring meredanya sorotan publik.
Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan sudah semestinya tidak lagi berlindung dengan narasi lumrah dan klasik “ Kami sudah melakukan upaya maksimal he he he. Jika diibaratkan siswa nilai dinas terkait patut diberikan warna merah mengingat dalam prinsip kepemiminan tidak ada pasukan yang salah kecuali komandannya, ya nggak ya gak? Sebab fakta di lapangan sering berkata lain. Edukasi masyarakat belum konsisten, dan seringkali hanya menjadi program seremonial. Padahal, kesadaran warga adalah benteng pertama dalam mencegah penyebaran DBD.
Lebih dari itu, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas patut dipertanyakan. Apakah semua puskesmas benar-benar siap mendeteksi dini kasus DBD? Apakah tenaga medis memiliki cukup sumber daya untuk merespons cepat? Ataukah masih ada pasien yang harus menunggu bahkan dipingpong sebelum nedapat penanganan?
Kita juga tidak boleh melupakan peran, Juru Pemantau Jentik, Jumantik yang dulu menjadi garda terdepan dalam pencegahan. Program ini kini terasa seperti bayang-bayang, ada dalam konsep, tetapi minim dalam implementasi he he he. Padahal, keberadaan jumantik di tingkat desa dan banjar terbukti efektif menekan populasi nyamuk penyebab DBD.
Lalu, adakah keterkaitannya dengan penglolaan sampah yang kini semakin berpolemik? Tentu saja ada. Pada sejumlah lokasi persoalan sampah justru menjadi pemicu yang memperparah penyebaran DBD. Tumpukan sampah plastik, kaleng bekas, botol, dan wadah terbuka menjadi tempat ideal bagi air hujan untuk menggenang dan di sanalah nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Ketika sampah menjadi polemic sudah seharusnya alarm kesehatan masyarakat ikut berbunyi. Kulkul PKK yang digelar setiap awal bulan frekuensinya perlu ditingkatkan. Persoalan ini bukan semata isu kebersihan atau estetika lingkungan, tetapi sudah masuk ranah darurat kesehatan. Buruknya pengelolaan sampah menjadi sarang empuk bagi penyebaran Demam Berdarah Dengue.
Perlu ada langkah sistematis, berkelanjutan, dan terukur: melalui penguatan edukasi publik, revitalisasi jumantik, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga pembenahan serius dalam pengelolaan sampah yang selama ini dibiarkan berlarut-larut. Jangan apatis untuk tampil di depan coreong media untuk selalu dan selalu memberikan dan mengingatna masyarakat akan arti pentingnya hidup bersih dan sehat. Di tengah situasi ini, kita kembali diingatkan pada pola klasik yang sebenarnya sederhana namun efektif yakni 3M meliputi Menguras, Menutup, dan Mengubur. Menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Karena jika tidak, kita hanya akan mengulang siklus yang sama yakni menunggu korban berikutnya, lalu kembali sibuk sejenak, sebelum akhirnya lupa lagi. Dan ketika DBD kembali menelan korban jiwa, yang dipertanyakan bukan lagi apa penyebabnya. Tetapi: di mana Dinas kesehatan beserta semua struktur pendukungnya ?
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
