
Catus Pata, Unit Sapu Bersih di bawah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng adalah pasukan sunyi yang bekerja ketika sebagian besar orang memilih beristirahat. Mereka bukan sekadar petugas kebersihan mereka adalah penjaga wajah kota, penopang kesehatan publik, dan benteng terakhir dari krisis lingkungan yang bisa muncul kapan saja.
Ironis memang , Saat masyarakat menyambut Hari Raya Nyepi, terutama pada malam pengerupukan yang identik dengan hiruk pikuk persiapan, dapur-dapur menyala, keluarga berkumpul, dan THR dinikmati, justru pada saat itu mereka berjibaku dengan tumpukan sampah. Ketika orang lain merayakan, mereka lembur. Ketika orang lain beristirahat, mereka tetap bergerak.
Lalu, sehari setelah Nyepi, tepatnya saat Ngembak Geni, ketika masyarakat menikmati waktu santai, bersilaturahmi, dan menghabiskan sisa bekal, unit sapu bersih kembali turun ke lapangan. Tanpa jeda yang layak, tanpa sorotan, tanpa penghargaan yang sepadan dan tanpa cekrek sana cekrek sini, mereka bekerja dengan penuh ketulusan tanpa pencitraan.
Coba kita bayangkan , bagaimana jika mereka minta libur selama dua atau tiga hari saja? Singaraja bisa berubah drastis. Sampah menumpuk di sudut jalan, bau menyengat menyebar, potensi penyakit meningkat, dan wajah kota yang selama ini dibanggakan bisa runtuh dalam hitungan waktu. Fakta ini menunjukkan satu hal penting peran mereka bukan pelengkap, melainkan vital.
Namun realitas yang mereka hadapi justru jauh panggang dari api. Banyak dari mereka berstatus pegawai P3K paruh waktu. Mereka bekerja dalam ritme yang tidak mengenal hari libur, tetapi tidak mendapatkan hak yang bahkan dianggap “standar” oleh pekerja lain, seperti THR. Ini bukan sekadar persoalan administratif namun soal keadilan dan penghargaan terhadap kerja keras yang nyata.
Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Buleleng tidak lagi memandang mereka sebagai tenaga pelengkap yang bisa diingat setahun sekali. Perhatian harus diwujudkan dalam kebijakan konkret dan berkelanjutan baik berupa pemberian hak-hak dasar seperti THR dan jaminan sosial, Insentif lembur yang layak. Lebih dari itu, perlu ada perubahan cara pandang. Kota yang bersih bukan hanya hasil program pemerintah, tetapi hasil keringat orang-orang yang sering tidak disebut namanya. Mengabaikan mereka sama saja dengan meremehkan fondasi kebersihan kota itu sendiri.
Jika perhatian hanya datang saat momen tertentu, itu bukan penghargaan namun sekadar formalitas. Yang mereka butuhkan adalah keberpihakan yang nyata, konsisten, dan berani.Ya nggak ya nggak?
Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)
