
Buleleng, Yayasan Taruna Hita Global sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Krisis Logika Lahirkan Krisis Iklim” pada Minggu, 23 Maret 2026, bertempat di salah satu restoran kawasan Pantai Penimbangan.
Kegiatan ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Acara tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pola pikir yang logis dan bertanggung jawab dalam menyikapi isu lingkungan, khususnya krisis iklim yang kian nyata dampaknya.
Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, peserta diajak memahami keterkaitan antara cara berpikir manusia dengan berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi. Penekanan diberikan pada pentingnya perubahan perilaku sehari-hari sebagai langkah konkret menjaga kelestarian alam.
Salah satu peserta dalam forum diskusi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan saat ini. “Krisis iklim yang kita hadapi hari ini tidak lepas dari krisis logika dalam cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Jika pola pikir tidak berubah, maka kerusakan akan terus berlanjut,” ungkapnya.
Dari hasil pengamatan yang dipaparkan dalam forum, ditemukan sejumlah ancaman serius di Kota Singaraja. Di antaranya, potensi ancaman banjir tinggi mencapai 8,73% dari total luas wilayah, sementara hampir 50% lainnya masuk dalam zona ancaman sedang. Selain itu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa formasi hutan hanya tersisa 2,69%, jauh di bawah kebutuhan ideal.

Permasalahan lain yang mengemuka adalah pengelolaan sampah. Tercatat hampir 80% sampah organik di TPA Bengkala belum terkelola dengan baik, sehingga berpotensi menjadi sumber emisi gas rumah kaca sekaligus bom waktu lingkungan.
Forum diskusi yang diketuai oleh Ni Luh Mang Puspita Widyaningsih ini menghasilkan empat rekomendasi utama. Untuk pemerintah, disarankan melakukan revisi serta penegakan zonasi tata ruang dan reformasi tata kelola sampah berbasis sumber. Sementara itu, desa adat didorong untuk lebih berperan dalam penataan lingkungan dan pengelolaan sampah. Adapun masyarakat umum diharapkan mulai melakukan perubahan perilaku dari hulu.
Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama menandatangani ikrar menjaga kebersihan di mana pun berada sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan.
Yayasan Taruna Hita Global berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif sekaligus mendorong aksi nyata masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.(tut)
