Tujuh Tahun Bertahan Melawan Lupus, Harapan Eka Menanti Kesembuhan Tak Pernah Padam

Gerokgak, Di usia yang masih belia, Putu Eka Noviani harus menjalani perjuangan yang tak mudah. Selama tujuh tahun, gadis asal Desa Tukadsumaga, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, bertahan melawan penyakit lupus yang menggerogoti tubuhnya.

Berbagai proses pengobatan, serta keterbatasan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang harus ia jalani. Namun, perjuangan itu menghadapi tantangan berat dalam tiga bulan terakhir.

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat Eka, yang kini berstatus yatim piatu, terpaksa menghentikan pengobatan medis. Kondisinya pun perlahan semakin menurun.

Dari cerita sang kakek Nengah Kertya, Dengan penuh harap, ia berupaya agar cucunya kembali mendapatkan pengobatan dan perhatian yang dibutuhkan.

“Selama ini kami berusaha semampunya agar Eka tetap bisa berobat. Tapi karena keterbatasan biaya, sudah sekitar tiga bulan pengobatannya berhenti. Kami tentu sangat berharap ada bantuan agar Eka bisa kembali mendapatkan pengobatan,” ungkap Nengah Kertya.

Kisah perjuangan Eka kemudian mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Buleleng. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, S.Sos., MM., turun langsung ke Kecamatan Gerokgak untuk melihat kondisi Eka.

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi bentuk kepedulian, tetapi juga untuk memastikan kebutuhan pengobatan dan dukungan sosial bagi Eka dapat terus diupayakan.

“Kami datang untuk melihat langsung kondisi Eka dan memastikan kebutuhan yang diperlukan bisa mendapatkan perhatian. Prinsipnya, jangan sampai persoalan ekonomi membuat warga yang membutuhkan harus kehilangan akses terhadap layanan yang dibutuhkan,” ujar Kariaman.

Di tingkat desa, Pemerintah Desa Tukadsumaga juga tidak tinggal diam. Kepala Desa Tukadsumaga, Anak Agung Sri Wati, mengatakan pihak desa selama ini telah memberikan bantuan secara rutin kepada Eka.

Berdasarkan hasil pendataan perlindungan sosial, Eka dinilai layak mendapatkan bantuan BPNT. Pemerintah desa juga terus mengupayakan kolaborasi dengan para pemerhati sosial untuk memenuhi kebutuhan lanjutan yang diperlukan.

“Pemerintah desa tetap berkomitmen mendampingi Eka. Selama ini bantuan rutin sudah diberikan. Dari hasil perlinsos, Eka juga dinilai layak mendapatkan bantuan BPNT. Kami akan terus berkoordinasi dan berupaya mencari dukungan lain sesuai kebutuhan pasien,” jelas Sri Wati.

Kisah Eka menjadi gambaran bahwa perjuangan melawan penyakit bukan hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga dukungan keluarga, kepedulian sosial dan kehadiran pemerintah.(eta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *