
Singaraja – DPRD Kabupaten Buleleng menyoroti keterbatasan tenaga dokter hewan di tengah meningkatnya ancaman penyebaran rabies di wilayah Buleleng. Pemerintah daerah didorong segera menambah formasi dokter hewan guna memperkuat pelayanan kesehatan hewan dan perlindungan masyarakat.
Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, drh. Nyoman Dhukajaya, meminta pemerintah daerah segera mengusulkan tambahan formasi dokter hewan kepada pemerintah pusat. Menurutnya, kebutuhan tenaga dokter hewan di Buleleng masih jauh dari ideal jika dibandingkan dengan luas wilayah dan tingginya populasi hewan.
Persoalan rabies kembali mencuat setelah kasus gigitan anjing yang menyebabkan 19 warga Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, menjadi korban beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut dinilai harus menjadi perhatian serius semua pihak agar penanganan rabies lebih maksimal.
“Dengan keterbatasan tenaga dokter hewan yang ada saat ini, harus diupayakan penambahan tenaga lagi. Tidak hanya masalah anjing, tetapi juga hewan lainnya karena populasinya terus meningkat. Saya pikir penambahan formasi dokter hewan sangat penting,” ujar Dhukajaya usai kunjungan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distan KP) Buleleng, Selasa, 19 Mei 2026.
Politisi Partai Golkar ini menyebut idealnya setiap kecamatan di Buleleng memiliki empat hingga lima dokter hewan lapangan. Saat ini Kabupaten Buleleng hanya memiliki 21 dokter hewan, dengan 18 orang bertugas di Puskeswan dan tiga lainnya di dinas terkait.
“Kebutuhan kita besar untuk pembangunan peternakan. Dokter hewan mandiri juga harus bisa bersinergi. Formasinya harus diusulkan ke pusat karena banyak lulusan yang tersedia. Idealnya kita membutuhkan sekitar 36 dokter hewan lapangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan pihaknya terus menggencarkan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan rabies. Warga juga diminta rutin memvaksin hewan peliharaannya setiap tahun.
“Kami berharap masyarakat lebih peduli dengan hewan peliharaannya, khususnya anjing. Kalau tahun ini sudah divaksin, tahun depan harus divaksin lagi,” ujarnya.
Menurut Melandrat, pihaknya bersama aparat kelurahan dan relawan masih melakukan pencarian terhadap anjing yang menggigit 19 warga di Banyuning. Meski belum ditemukan, seluruh korban dipastikan telah menerima vaksin anti rabies (VAR).
Selain itu, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dijadwalkan menggelar vaksinasi massal hewan penular rabies pada Sabtu, 23 Mei 2026.
“Kami berharap masyarakat membawa anjingnya ke pos-pos vaksinasi. Kalau tidak, kami juga akan melakukan door to door, meski tentu itu akan lebih berat dan kurang maksimal,” kata Melandrat.
Ia menambahkan, populasi anjing di Buleleng saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 24 ribu ekor. Di sisi lain, dokter hewan juga harus menjalankan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK), sehingga beban kerja di lapangan semakin tinggi.
“Dari awal tahun vaksinasi sudah berjalan karena di setiap kecamatan minimal ada dua dokter hewan. Namun memang ada keterbatasan karena selain vaksin rabies, kami juga menjalankan vaksinasi PMK,” pungkasnya.(uka)
