Senandung Giri : Penataan Wajah Kota Singaraja Berlanjut

Catus Pata, Pemerintah kabupaten Buleleng terus berbenah. Salah satunya berupa penataan wajah Kota Singaraja. Penyelesaian pengerjaan  titik nol kini sudah mendekati angka 50 persen. Semua dikebut agar pelaksanaan Buleleng Festival sebagai salah satu icon Buleleng dapat dilaksanakan kembali dengan tata lokasi kawasan tempo dulu. Tentu saja tanpa mengabaikan kwalitas bangunan ya nggak ya nggak?

Namun pembangunan tidak boleh timpang. Jalan-jalan di perdesaan apalagi di perkotaan harus diikutkan dalam proyek perbaikan. Soal yang satu ini Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra dan wabup Gede Supriatna menegaskan bahwa penataan kota harus berjalan seiring dengan perbaikan infrastruktur dasar, terutama jalan. Jangan sampai trotoar dibangun rapi, tetapi badan jalan justru berlubang dan dikeluhkan warga. Karena itu, perbaikan jalan akan tetap menjadi prioritas, agar wajah kota tidak hanya indah dilihat, tetapi juga nyaman dilalui.

Apakah pembangunan wajah kota berhenti sampai di titik nol? Oh ternyata tidak. Setelah penataan titik nol rampung, pemerintah akan  bergerak ke tahap lanjutan dengan membenahi trotoar di sepanjang Jalan Veteran hingga tersambung ke Kelurahan Kendran. Kawasan ini akan dikembangkan sebagai jalur pedestrian yang nyaman dan representatif, dengan visi besar menjadikannya lokasi ini sebagi Malioboronya Buleleng.

Sorotan lain adalah diarahkan pada kawasan pedagang kaki lima, khususnya di sebelah selatan Taman Kota Singaraja, Jalan Tasbih, dan Jalan Wijaya Kusuma. Penataan di wilayah ini akan dilakukan lebih tegas. Pemerintah tidak ingin lagi melihat pelanggaran yang dibiarkan berlarut-larut. Aturan jam buka dan tutup akan ditegakkan tanpa kompromi, dan para pedagang diminta disiplin. Tentu dengan sosialisasi lebih awal.

Lebih jauh, pemerintah mengingatkan agar lahan yang digunakan tidak disalahgunakan., mengingat belakangan tidak sedikit para pedagang yang diijinkan memanfaatkan lahan untuk berjualan seperti membuat kos-kosan he he he. Penataan ini bukan untuk membatasi usaha masyarakat, melainkan memastikan ruang kota digunakan secara adil dan sesuai aturan.

Paket Sutjidra-Supit menekankan bahwa wajah Singaraja ke depan harus mencerminkan kota yang tertib, bersih, dan memiliki daya saing, tanpa mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat. Pembangunan harus tegas, terarah, dan tidak setengah-setengah.

Tim Pemberitaan Dewata roundup.(tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *