Bulan Bahasa Bali ke VIII, Desa Adat Buleleng Fokus Pelestarian Bahasa Bali

Buleleng, Dalam rangka menyemarakkan Bulan Bahasa Bali ke-VIII Tahun 2026, Desa Adat Buleleng menggelar lomba nyurat aksara Bali dan lomba pidato Bahasa Bali, Kamis (5/2), bertempat di Wantilan Kantor Desa Adat Buleleng. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen desa adat Buleleng dalam melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali di tengah masyarakat.

Lomba nyurat aksara Bali diikuti oleh 14 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD), sementara lomba pidato Bahasa Bali diikuti oleh 14 krama desa dengan rentang usia 30 hingga 71 tahun. Seluruh peserta merupakan perwakilan dari 14 banjar adat yang ada di wilayah Desa Adat Buleleng.

Kepada Reporter Radio Nuansa Giri FM, Ketua Panitia Bulan Bahasa Bali VIII Desa Adat Buleleng, Putu Mahendra, mengatakan pelibatan peserta lintas generasi dilakukan secara sengaja sebagai upaya menanamkan semangat serta membangun mental yang kuat, khususnya bagi generasi muda.

“Kami libatkan krama yang sudah berusia lanjut sebagai contoh. Kalau yang tua saja bisa, kenapa yang muda tidak bisa,” ujarnya.

Putu Mahendra menambahkan, pada tahun-tahun sebelumnya lomba serupa juga telah dilaksanakan tanpa pembatasan jumlah peserta. Namun, pada tahun ini panitia membatasi jumlah peserta dengan tujuan menjaring peserta terbaik yang telah memiliki kemampuan dasar yang baik.

“Tahun-tahun sebelumnya lomba serupa digelar tanpa pembatasan peserta. Tahun ini kami batasi agar bisa menjaring peserta terbaik yang benar-benar memiliki kemampuan,” tambahnya.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian resmi Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan sesuai arahan Dinas Pemajuan Masyarakat Desa Adat (PMDA) Provinsi Bali.

“Sebagai kelian desa adat, saya mengeluarkan Surat Keputusan pembentukan panitia. Anggaran pelaksanaan kegiatan ini bersumber dari Dana BKK Provinsi Bali,” jelasnya.

Mengusung tema Bulan Bahasa Bali yang menitikberatkan pada keseimbangan alam, Nyoman Sutrisna berharap lomba ini mampu melahirkan wakil Desa Adat Buleleng yang siap berlaga di tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Untuk itu, desa adat menggandeng penyuluh Bahasa Bali guna melakukan pembinaan secara berkelanjutan di wantilan desa adat.

“Juara satu, dua, dan tiga akan dibina secara khusus agar siap mewakili desa adat di jenjang yang lebih tinggi,” katanya.

Sutrisna mengakui, tantangan utama dalam pelestarian Bahasa Bali saat ini adalah kebiasaan masyarakat yang lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, para penyuluh Bahasa Bali diharapkan terus menggiatkan penggunaan Bahasa Bali yang baik dan benar di masing-masing banjar adat.

Selain itu, Desa Adat Buleleng juga telah menerapkan program penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis sesuai arahan Pemerintah Provinsi Bali. Meski belum tertuang dalam perarem, kebijakan tersebut telah disampaikan melalui amanah dan Surat Keputusan Gubernur Bali.

Terkait generasi muda, Nyoman Sutrisna menilai yowana atau generasi Z sejatinya memiliki kemampuan berbahasa Bali yang cukup baik. Namun, penggunaan Bahasa Indonesia oleh lawan bicara kerap membuat komunikasi menjadi kurang selaras.

“Mudah-mudahan arahan gubernur ini bisa mendorong yowana untuk benar-benar menerapkan Bahasa Bali yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *