Senandung Giri : Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Catus Pata, Pada malam pergantian tahun 2025, Desa Adat Buleleng memilih untuk merayakan momen penting ini dengan cara yang jauh berbeda dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk perayaan tahun baru yang identik dengan gemerlapnya kembang api dan pesta pora, Desa Adat Buleleng menampilkan tradisi yang sarat makna dan kearifan lokal. Sebagai pengganti sorak-sorai kembang api, masyarakat desa memukul kulkul sebanyak 25 kali sebagai tanda berakhirnya tahun 2025 dan menyambut kedatangan tahun yang baru.

Kulkul, ya Kulkul ; sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari kayu, merupakan simbol kuat dalam kebudayaan Bali. Suara kulkul yang bergema ke seluruh penjuru pada 14 banjar adat di desa adat Buleleng  tidak hanya menandakan pergantian waktu, tetapi juga mengingatkan warga akan pentingnya menjaga harmoni dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan. Jumlah 25 pukulan ini bukan hanya sebagai tanda berakhirnya tahun 2025, tetapi juga sebagai doa dan harapan bagi kedamaian dan kesejahteraan di tahun mendatang. Dalam setiap pukulan kulkul, tersirat rasa harapan agar masyarakat tetap teguh menjaga nilai-nilai adat dan budaya Bali, serta selalu hidup rukun dan penuh kebersamaan, tidak hanya di tahun baru, tetapi sepanjang tahun yang akan datang.

Hujan yang mengguyur Buleleng menjelang pembagian nasi jinggo di Pelabuhan Buleleng memberikan suasana yang semakin syahdu. Pembagian nasi jinggo ini bukan hanya sekedar tradisi kuliner, tetapi juga merupakan wujud dari rasa syukur atas berkat yang telah diberikan sepanjang tahun, sekaligus sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaraan di antara sesama warga desa. Dalam kondisi cuaca yang agak dingin dan hujan yang tak berhenti, para warga tetap bersemangat dan penuh khidmat menjalankan ritual ini..

Dengan perayaan yang sederhana namun penuh makna ini, warga Buleleng memperlihatkan betapa pentingnya nilai-nilai spiritual dan kebudayaan dalam hidup. Tahun baru kali ini menjadi momen untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, serta menumbuhkan rasa syukur atas segala yang telah diterima, baik dalam suka maupun duka. Melalui kulkul, nasi jinggo, dan kebersamaan yang terjalin, Buleleng menyambut tahun baru dengan penuh harapan dan doa, agar tahun mendatang membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kemakmuran bagi seluruh warga desa.

Di tengah suasana yang sederhana ini, kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur, menghargai setiap detik yang telah berlalu, dan berdoa agar kedamaian dan kebahagiaan senantiasa menyertai langkah kita di tahun yang baru. Dengan hati yang penuh syukur, kita menyongsong tahun 2026, berharap agar segala kebaikan dan berkah senantiasa mengiringi perjalanan kita.

Tim Pemberitaan Dewata Roundup.(tut)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *